Pemkab Muara Enim Gelar Rapat Bahas Penyematan Nama Syekh Djallaludin pada Nama Masjid Agung

Muara Enim – Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Bagian Kesejahteraan Rakrat (Kesra) menggelar rapat dalam rangka rencana penyematan nama Syekh Djallaludin pada nama Masjid Agung Muara Enim, Jumat (31/03) di Ruang Rapat Serasan Sekundang.

Syekh Djallaludin sendiri merupakan seorang ulama pendiri dan penyebar Agama Islam di Kabupaten Muara Enim.

Rapat yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Muara Enim Yulius ini dihadiri beberapa kepala OPD, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat serta perwakilan dzuriat Syekh Djallaludin.

Pada kesempatan itu, Zainal mewakili dzuriat Syekh Djallaludin mengungkap, pihaknya menyambut baik rencana penyematan nama Syekh Djallaludin pada nama Masjid Agung Muara Enim tersebut.

“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi rencana penyematan nama Syekh Djallaludin pada nama Masjid Agung ini,” kata dia.

Dukungan terhadap penyematan nama Syekh Djallaludin itu didukung juga oleh sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat yang hadir. Mereka kompak setuju dengan rencana tersebut.

Namun keputusan rapat tersebut masih belum didapat. Sekda Yulius berharap akan ada rapat berikutnya yang juga melibatkan Plt Bupati Kaffah beserta tokoh-tokoh agama lain.

Sebagai informasi, rencana penyematan nama Syekh Djallaludin pada nama Masjid Agung ini dicetuskan oleh Plt Bupati Muara Enim Ahmad Usmarwi Kaffah saat menghadiri rangkaian kegiatan Haul Syekh Djalaluddin atau yang lebih dikenal Puyang Karang Enim sekaligus memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1444 H, di Masjid Agung Muara Enim, pada akhir Februari lalu.

Dalam sambutannya Kaffah mengapresiasi dan bangga dengan apa yang telah dilaksanakan oleh Para Zuriyat dan panitia pelaksana Haul Syekh Djallaludin atau Puyang Karang Enim.

Menurutnya, kegiatan ini selain menjalin silaturahmi juga dapat mengenal dan mengenang sosok Penyebar Agama Islam Pertama di Kota Muara Enim.

“Bagaimana perjuangan Syekh Jalaluddin Rahmatullah bersama para Ulama yang saat itu ikut mendampingi beliau begitu sulit dan banyak tantangan untuk menyebarkan agama Islam ini. Apalagi saat itu, di Muara Enim ini masih hutan belantara, banyak binatang buas serta belum banyaknya orang-orang yang memeluk agama Islam,” ujarnya.

Untuk itu, Kaffah mengatakan, jerih payah dan perjuangan ulama ini patut diapresiasi.

“Jadi saya berharap sekali apa yang telah dilaksanakan ini dapat terus dijaga, dirawat dan bila perlu dilakukan Haul Syekh Djallaludin setiap tahunnya. Saya mendukung jika dari para Zuriyat dan Pengurus Yayasan Masjid Agung Muara Enim menberikan nama Masjid Agung ini, Masjid Agung Syekh Jalaluddin,” ungkap Kaffah.