Revitalisasi Pasar Inderalaya Diduga Ada Kongkalingkong

0
Pasar Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir diduga syarat penyimpangan dan banyak kongkalingkong (Foto: Ist)

Pelitasumatera.com, OGAN ILIR – Proyek pengerjaan revitalisasi Pasar Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir diduga syarat penyimpangan dan banyak kongkalingkong.

Pasalnya proyek yang sudah dikerjakan lebih dari satu tahun dengan dana belasan milyar rupiah itu hingga kini belum ditempati. Belum diketahui secara pasti apa penyebab belum ditempatinya kembali pasar tersebut paska kebakaran yang lalu.

Ironisnya lagi, dari hasil pantauan media ini di lapangan, Senin (18/3/2019) kondisi pasar tampak semerawut, sampah berserakan dimana – mana.

Begitu juga bekas sisa – sisa pengerjaan proyek juga tampak berhamburan tidak asri dipandang mata. Cat dinding dan tembok juga tampak hanya dipoles tipis sehingga kelihatan kurang rapi, bahkan sudah ada yang mengelupas.

Kemudian, siring atau got pasar semuanya tampak tersumbat, penuh oleh berbagai jenis sampah dan juga tanah yang diyakini akan menyebabkan banjir karena air tidak bisa mengalir.

Pedagang yang ada pun cukup mengeluh dan menilai jika proyek revitalisasi pasar tersebut diduga dikerjakan asal jadi. Tanpa mengutamakan kepentingan dan kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat banyak terutama kenyamanan pembeli dan pedagang sendiri.

Padahal diakui pedagang, Pasar Inderalaya merupakan satu – satunya pasar terbesar dan menjadi ikon Kabupaten Ogan Ilir yang seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Apalagi mengingat jaraknya berada di pusat perkotaan yang mudah dijangkau atau srategis.

Itu artinya pemerintah berikut dinas terkait bisa dengan mudah melakukan monitoring terhadap pengerjaan revitalisasi pasar. Yang terjadi, ungkap pedagang, justru hasil revitalisasi yang ada saat ini kurang memuaskan.

Kondisinya justru lebih jelek dari sebelum dilakukan revitalisasi. Pedagang pun tidak menampik sepertinya pekerjaan proyek itu hanya mementigkan keuntungan pribadi oknum-oknum tertentu.

“Sepertinya ada main mata antara oknum pemborong dan oknum dinas terkait dalam pengerjaan proyek agar mendapatkan untung yang lebih besar,” ujar salah satu pedagang.

Dana yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir melalui Dinas Perumahan dan Pemukiman itu diduga tidak sesuai dengan wujud realisasinya di lapangan.

Terbukti, cat yang sudah mengelupas padahal belum ditempati lagi, plafon bocor, lantai keramik dipasang tanpa membongkar keramik lama, hanya ditumpuk. WC yang berada di bawah tangga pasar tidak selesai direhab, hanya dipecah dan dibobok, selanjutnya dibiarkan saja tanpa perbaikan.

Sementara diakui sejumlah pedagang, jika kios pedagang mengalami kerusakan maka semua itu sama sekali tanggungjawab pedagang yang menempati, tidak diperbaiki oleh pemerintah.

Hal itu, terang pedagang sangat memberatkan mereka para pedagang, belum lagi mereka harus membayar karcis pasar. Masyarakat sekitar Pasar pun, yang enggan menyebutkan namanya, juga menyayangkan kondisi pasar yang ada saat ini.

Masyarakat menduga hal itu akibat adanya aksi kongkalingkong antara oknum – oknum tertentu guna mencari keuntungan lebih dalam mengolah keuangan proyek.

Masyarakat pun meminta kepada penegak hukum dan pihak terkait kiranya untuk mengaudit pengerjaan proyek agar ulah oknum tidak terus semena-mena tanpa efek jera.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan Kepala Dinas Perkim Kab.Ogan Ilir, Yulius Hendri belum berhasil dikonfirmasi.

Penulis: Endang Rajo Alam